PSSI vs Konami
Sepak bola bisa menginspirasi siapa saja.
Sayangnya untuk urusan persepakbolaan Indonesia terutama antar klub sungguh memprihatinkan, karena sepak bola Indonesia tidak ditata secara baik bahkan cenderung asal-asalan, sudah milyaran uang dikeluarkan, ribuan pemain lokal digodok tetapi untuk berprestasi saja tidak menunjukan tajinya, jangankan bicara pentas dunia, di kawasan Asia bahkan Asia Tenggara masih kalah dengan negara tetangga. Memang, sepak bola melibatkan seluruh aspek yang ada di sekitarnya, tetapi kalau sudah menjurus ke arah kerusuhan mustinya ada yang harus dibenahi.

Pada suatu hari, PSSI datang ke Publisher game terbesar di Jepang, Konami.
PSSI: “Kenapa sih Indonesia tidak dimasukan dalam game Winning Eleven??, di Indonesia sangat populer sekali, sampai dibajak berkali-kali dan lebih cepat update, semua penggemar sepakbola di negara kami sangat pintar memainkannya”
Konami: “Kami tidak bisa.”
PSSI: “Kenapa tidak??”
Konami: “Kami tidak menyediakan kontrol khusus pemain untuk memukul wasit atau lawan mainnya, mencaci wasit atau lawan mainnya, membunuh wasit atau lawan mainnya apalagi memanggil suporternya untuk membantunya dalam insiden tersebut…”

Mungkin PSSI sebaiknya mengadakan kontes Winning Eleven terbesar se-Indonesia saja, untuk mencari bakat-bakat muda terpendam, resiko rusuh, baku hantam dan anarkis ala bonek bisa berkurang. Eh, ketuanya aja tersandung kasus masuk bui. Sebentar lagi mungkin bisa menyusul Sri Mulyani ke luar negeri, masuk FIFA.