Original Sin

Gayus Tambunan harus bangga pada dirinya. Karena kasusnya memberi inspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Daripada mengerjakan tugas kuliah saya malah tertarik untuk menulis. Terima kasih Gayus.

Semuanya berawal dari Gayus Tambunan. Tentang korupsi. Lalu saya teringat salah satu adegan di film The Kite Runner yang menyampaikan bahwa dosa paling dasar adalah mencuri, maling. Berbohong adalah mencuri kejujuran, berkhianat adalah mencuri kepercayaan, membunuh adalah mencuri lehidupan, dan korupsi adalah mencuri harta orang lain.

There is only one sin, only one. And that is theft. Every other sin is a variation of theft… When you kill a man, you steal a life. You steal his wife’s right to a husband, rob his children of a father. When you tell a lie, you steal someone’s right to the truth. When you cheat, you steal the right to fairness. Baba, The Kite Runner, 2007.

Belakangan hampir semua orang berteriak. Orang berteriak agar Gayus ditangkap dan diperiksa. Lalu saya jadi tidak mengerti apakah kemudian orang kaya juga berarti mencuri orang-orang miskin, karena sepertinya orang kaya semakin kaya dan meninggalkan kemiskinan. Lalu orang berteriak agar Pelindo dan Satpol PP tidak menggusur makam Mbah Priok. Belum lama kita juga ribut Malaysia dipandang mencuri kebudayaan kita.

Hmmm. Lantas saya berpikir. Bagaimana dengan saya? Ternyata selama ini saya telah menjadi maling, pencuri kepunyaan Tuhan. Mencuri berkat-Nya dan malas mengembalikannya lewat ibadah. Menjadi maling atas semua pemberian-Nya tanpa mampu bersyukur dengan sepenuh hati. Tuhan mempersilahkan waktu untuk diisi, tapi malah dipenuhi dengan kemaksiatan. Tuhan memberikan kebugaran, tapi kemudian dimalingi dengan gaya hidup yang sembrono. Astaga! Ternyata besar sekali hasil malingannya. Jangan-jangan Tuhan sudah tidak punya rumah lagi disini, karena sudah dicuri. Ini bentuk korupsi pada Tuhan.

Tempo hari saya mencuri mainan pesawat seru di rumah tak berpenghuni. Saya akui saya salah. Apa gunanya mengakui tapi tidak menyesal. Oh, rasanya belum mampu menghukum diri sendiri. Bukan hanya saya, anda juga saya rasa.

Lalu Tuhan menyapa. Dari sorga Ia turun ke bumi, turun dengan membawa derita. Mudah saja baginya untuk mengambil sesuatu dari kita, karena semua milik-Nya, katanya. Semua itu titipan, kita saja yang menyimpannya rapat-rapat hingga lupa waktunya welasasih. Sadar atau tidak, maling-maling masih berkeliaran. Mungkin justru di aliran darah kita.

Tuhan sadarkan karena sayang. Selanjutnya, terserah saja. Mau sadar atau malah menjadi maling yang handal. Namun, seingat saya rata-rata barang saya yang hilang biasanya hilang saat saya sudah tidak lagi peduli atau tidak sadar lagi, beruntungnya saya memiliki barang itu.

Adam dan Hawa juga maling, mereka mencuri buah terlarang dari Tuhan. Dari awalnya manusai sudah jadi maling. Dang!

 

 

Notes