
Film ini gw tonton dulu pas kelas tiga SMA, gw pilih random aja di tempat rental film karena ada Jim Carrey-nya. Mungkin boleh dibilang salah satu film favorit gw. Dan kemarin iseng gw tonton lagi. (bagus buat ababil biar jangan (sok) galau terus)
Joel dan Clementine bertemu sangat kebetulan, di kereta api antara New York dan Montauk. Joel sedang bosan kerja, bosan hidup. Menunggu kereta, dilihatnya ada perempuan cantik degan gaya urakan, tersenyum kecil padanya. Joel langsung terhentak dalam dirinya, walaupun dari luar kelihatan malu-malu. Satu hal yang Joel kesal, kenapa dia selalu jatuh cinta pada wanita manapun, yang memberikan sedikit perhatian kepadanya?
Dari perjumpaan pertama dan obrolandi kereta api dan perjalanan ke tempat tujuan bersama, mereka langsung cocok walaupun berbeda. Clementine sangat cerdas, cantik, lincah dan seratus persen tertambat pada Joel. Joel tinggal menerima dengan gaya ragu-ragu, seakan-akan dia orang tua yang mengasuh gadis kecil. Tapi hubungan mereka berkembang menjadi cinta dewasa setelah dua tiga kali ketemu, cinta lengkap dengan segala kekuatan dan aksesori.
Satu saat, kehambaran masuk dalam hubungan mereka. Entah dari mana muncul angin dingin itu. Menyayat, melahirkan ketidak nyamanan, pertengkaran, dan sakit hati. Setiap peristiwa luar yang mengganggu hubungan mereka, membesar menjadi point negatif yang makin memberati hubungan mereka dengan beban besar.
Clementine bertambah cuek dan sukar diduga. Joel semakin serius mengejar buah hati pertama sejak lama. Clementine wanita muda dengan jam terbang tinggi, Joel lebih tua tapi seperti anak SMP dalam ketulusan dan pemujaan terhadap Clementine.
Kemudian… dengan musik seram dan cahaya semakin redup, masuklah musuh percintaan, yaitu kecurigaan dan kecemburuan. Semakin Clementine tidak jelas kelakuannya, semakin Joel cemburu. Setiap Joel bertanya, Clementine menjawab sambil tambah kesal pada Joel. Kekesalan menjadi kebencian. Joel tidak menjawab dengan pengertian, tapi malah menambah dosis ketulusan, penyesalan, tangis derita. Semuanya paling tidak disukai oleh Clementine, yang senang pria yang cool. Kebebasan semakin lepas dari Clementine, dengan kehadiran Joel.
Akhirnya Clementine terlibat dengan pria lain. Atau begitu menurut pandangan Joel. Joel menanyakan, tapi Clementine tidak menjawab. Tidak merasa harus menjawab, karena pertanyaan itu melewati boundary. Selain merasa tidak harus, juga tidak ingin menjelaskan demi ketenangan Joel. Keluar sisi gelap Joel, kata-kata kejam yang Clementine selalu tidur dengan laki-laki karena itu hanya dengan cara itu orang bisa senang pada dia. Walaupun kata-kata ini segera dicabut kembali,tapi Clementine langsung minggat.
Keduanya masih ingat masa indah yang mereka lalui bersama. Kalau kebetulan ketemu, mereka saling bersopan santun. Sampai pada dialog terakhir:
Joel: Bagaimana kamu bisa ninggalin aku? Aku kan orang paling baik yang pernah jadi pacar kamu.
Clementine: Joel, it is not you. Aku bukan orang sempurna, aku bukan orang yang bisa melengkapi kehidupanmu. Pergilah, kita jalan masing-masing.
Joel: Kenapa?
Clementine: Kita akan terus berantem. Lebih bagus begini, pisah
Joel: Please, please stay…
Clementine: Buat apa? Kamu mau apa sih sebetulnya?
Joel: Nggak tahu… nggak tahu.. just stay a while… Tidak ada satu halpun mengenai kamu yang saya tidak suka.
Clementine: Ah, banyak, pasti banyak. Nanti kelihatan semua. Mungkin kita baik sebentar, tapi berantem lagi. ‘You think I make you complete or something. I am not a concept, Joel. I am just a messed-up girl trying to find peace.’
Clementine lagi:Kamu pasti akan lihat banyak segi jelek saya kalau kita paksakan hidup sama-sama. Dan saya akan merasa bosan, dan terjebak. Pergilah, Joel.
Joel: … … Ok deh
Maaf pembaca, ini bukan tulisan asli tapi ringkasan dari tulisan Charlie Kaufman yang menang Oscar untuk film “Eternal Sunshine of the Spotless Mind,” dengan Jim Carrey (Joel), Kate Winslet (Clementine), Kirsten Dunst. Mudah-mudahan script ini milik publik jadi kita tidak kena gugatan hukum. Saya rasa ada gunanya dimuat. 68% orang di Jakarta yang nonton film ini tidak senang karena bikin pusing, gelap dan nggak masuk akal. Saya melihatnya malah jernih. Ini sari ceritanya. Bagi ahli film, cerita tidak penting disini. Kekuatan film ini adalah pada konsep penghapusan memori secara selektif, dan teknik pengacakan alur waktu yang canggih. Cerita hanya soal sampingan. Tapi sampingan malah asyik.
Tokoh Joel yang dimainkan Jim Carrey patah hati luar biasa. Begitu parah sehingga ia tidak bisa menerima beban mental akibatnya. Mau dipikir kemanapun, bolak-balik, ia tidak mengerti mengapa Clementine meninggalkan dia. Dia sudah begitu baik, penuh perhatian… apa lagi yang diinginkan Clementine? Akhirnya dia pergi ke seorang ahli yang bisa menghapus memoi dari hal-hal yang tidak enak. Jelasnya, membuat dia lupa Clementine. Bukan saja hal yang menjengkelkan, tapi juga hal yang menyenangkan. Pendek kata, meng-edit Clementine sama sekali keluar dari sejarah hidupnya.
Tapi itu hanya awal dari poin utama yang ingin disampaikan film ini. Kembali ke judul film ini, Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Perasaan menggelitik yang membuat Joel tersenyum malu ketika bertemu Clementine di stasiun pada adegan awal film bukan tanpa sebab.
Walaupun tidak senang membuat kesimpulan, kita tambah satu kalimat supaya tulisan ini bisa tetap digolongkan menjadi esei.
Cerita ini adalah metafor. Seluruh hidup adalah metafor, dikutip dari satu bagian diterapkan ke bagian lain. Semua kasus salah pengertian, pertikaian, permusuhan, berantem adalah perwujudan metafor ini.
Gerakan kemerdekaan mengikuti metafor Joel dan Clementine. Ketulusan berlebih di satu pihak, rasa tertindas di pihak lain, membuat kebebasan menjadi dewa. Akhirnya, merdeka atau mati.
(WW, Cerita Sedih Orang Terjebak)
“How happy is the blameless vestal’s lot? The world forgetting by the world forgot. Eternal sunshine of the spotless mind. Each prayer accepted and each wish resigned.” - Alexander Pope