

Kita Butuh Superman?
“Indonesia Kian Dekati Negara Gagal”. Begitulah judul artikel Kompas minggu lalu, 7 Maret 2011. Republik Indonesia makin mendekati skenario negara gagal sebab tak mampu mewujudkan cita-cita nasional sesuai pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Negara tidak mampu melindungi segenap bangsa, mencerdaskan, menyejahterakan rakyat, dan negara ini tak punya wibawa dan berperan secara internasional. Korban sudah berjatuhan, darah sudah menetes. Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sedang diancam luar biasa dan ditanggapi secara biasa.
Pemikiran pendek saya menuntut hadirnya ksatria yang mampu menghabisi kebobrokan bangsa ini. Mungkin ini yang namanya superhero, pahlawan pembela kebenaran. Pahlawan yang bersedia melakukan dirty jobs. Sebagaimana terlihat dari cara Superman mengatasi kejahatan yakni dengan absolutisme moral: setiap kejahatan adalah salah, sementara mana saja yang jahat, cukup ia sendiri yang memutuskan. Main hantam, main pukul, main bunuh menjadi urusannya sendiri. Benar atau salah ditutup dalam kostumnya. Dengan demikian moralitas pun jadi absolut.
Ini terjadi karena dua hal: power dan idealisme buta. Superhero ini tidak bercanda ketika bercita-cita mengawal moralitas manusia. Namun bagaimanapun juga, super power tersebut kemudian membuat Superman tidak identik dengan kemanusiaan pada umumnya. Karena (jaman sekarang) sikap vigilante tersebut semakin tidak dapat diterima. Superman menunjukkan ‘kesombongan’ moral, ia menjadi judgement jury dan excutioner sekaligus.
Hal ini membuat Superman sama naifnya seperti tokoh hipokrit lainnya. Sama seperti teroris yang mengebom sana-sini. Sama seperti ekstrimis agama yang tidak segan melukai orang lain yang dianggap bertentangan dengan nilai yang dianutnya. Sama seperti Amerika yang merasa mengemban misi moral menjadi polisi dunia lalu menghancurkan negara lain. Semua merasa diri mereka sendiri yang paling benar.
Untuk itu kita harus melihat para superhero ini secara utuh. Mengapa mereka harus repot-repot mengawal kebenaran di bumi ini. Mereka tidak tiba-tiba muncul dari kekosongan lalu pukul sana pukul sini. Mereka punya kekuatan super dan seperti tidak ada tujuan lain selain melawan kejahatan. Agar aksi Superman yang berbahaya ini bisa diterima maka disusunlah mitologi dimana superman berasal dari ras yang secara moral superior, agar adegan Superman dengan seenaknya mengangkat mobil itu bisa diterima, tidak sekedar orang kuat yang sok benar.
Faktor lain yang menjadi penting adalah keberadaan orang-orang di sekitar para superhero ini. Superman punya keluarga Kent yang memberinya asupan moral, yang membentuk kepribadian Clark Kent kelak. Ini mirip dengan Songoku dalam cerita komik Dragon Ball-nya Akira Toriyama. Songoku yang masih kecil merupakan bangsa unggul dan memiliki kekuatan lebih dikirim ke bumi untuk membinasakan manusia, namun karena suatu kecelakaan ia lupa dengan misi yang embannya dan kemudian diasuh kakek Songohan yang baik hati.
Batman, Bruce Wayne, berangkat dari peristiwa masa kecilnya, ia trauma akan kematian orang tuanya. Sebenarnya ia tak mempunyai misi khusus, ia hanya dendam pada kejahatan. Keberadaan Alfred Pennyworth juga vital, ia membantu sang Batman menemukan tujuan hidupnya. Lihat saja bagaimana Alfred (Michael Caine) dalam film The Dark Knight menjelaskan pesan moral dibalik cerita penjahat yang ia temui di Kamboja. Interaksi para superpower ini dengan lingkungannya membentuk kepribadian diri mereka.
Hal ini sepertinya membuat DC sadar. Belakangan Superman dan superhero lainnya diceritakan mengalami krisis identitas, mereka dihadapkan pada dilema konsekuensi dari perbuatan mereka. Seperti karma, para superhero ini kerepotan ketika identitasnya ketahuan oleh musuh. Nyawa orang di sekelilingnya terancam, dan ada saatnya para superhero ini mati dibunuh, walaupun ada juga cerita dimana mereka dihidupkan kembali. Superman pun kadang harus bertaruh, saat ia membusung menerjang peluru ia juga takut kalau-kalau peluru tersebut berisikan kryptonite.
Pola genesis ini juga dapat dipakai untuk menjelaskan moral imperative Amerika, negara adidaya yang selalu menggembor-gemborkan liberalisme, dengan melihat bagaimana negara itu didirikan dan konflik internal apa yang mereka alami. Some misplaced sense of self-righteousness.
Lalu pada akhirnya adalah sebuah paradoks.
Superman pada mulanya adalah tokoh diciptakan dua pemuda Yahudi, Jerry Siegel dan Joe Schuster pada tahun 1932, saat Amerika sedang mengalami Great Depression. Superman melambangkan “Hope”, menginspirasi orang untuk bangun dari keterpurukan dan melawan kejahatan.
Namun di sisi lain Superman telah gagal menunjukkan sisi kemanusiaannya karena pada dasarnya dia bukan manusia dan ia memiliki kekuatan yang luar biasa. Dan yang penting aksi main hakim sendiri itu tidak dapat diterima! Ini terbukti dengan kejadian akibat dari tindakan para superhero ini: sebuah anarki sosial. Aksi brutal dari absolutisme moral justru akan memancing musuh untuk melawan balik dengan cara yang sama. Dalam cerita superhero, orang-orang di sekelilingnya selalu menjadi korban tak bersalah.
Kita dapat belajar hal ini dari Joker, penjahat maniak murni yang menganggap nature dari kemanusiaan itu sendiri adalah kejahatan. Ia pernah berkata, “Introduce a little anarchy, upset the established order, and everything becomes chaos, I’m an agent of chaos, and you know the thing about chaos? It’s fair.” Kekerasan akan memunculkan kekerasan berikutnya, sungguh sebuah sifat alami manusia yang sudah kuno.
Sekarang kembali ke dunia nyata, dunia para Muggle. Mungkin Indonesia tidak butuh superhero, Superman, Batman atau apa lah. Indonesia butuh pemimpin yang tegas, yang mampu mendamaikan aktor-aktor yang berlagak menjadi superhero ini, membangunkan mereka dari mimpi buruk, dan memimpin bangsa ini menuju cita-cita luhur bangsa. Pemimpin yang justru profesional total, bekerja fokus untuk bangsanya bukan malah sibuk dengan kostum. Dengan kekuasaan yang dimandatkan kepadanya dan segala kelengkapan serta keterbatasan vigilante-nya (polisi, birokrasi, jaksa, tentara, dan sebagainya), ia mampu mengalahkan kejahatan.
Notes
-
sarasvvati liked this
-
nandojamur posted this