Where God Left His Shoes

Thomas Shipp dan Abram Smith dihukum gantung secara paksa karena dianggap merampok dan membunuh seorang kulit putih (red neck). Ini supremasi kulit putih jaman dulu, kejahatan sekecil apapun kalau sudah kulit hitam yang melakukannya, tidak main-main bisa maut akibatnya. Ya, hal baik datang kemudian, masyarakat Amerika sadar ini sesuatu yang amat sangat salah. Seseorang tidak boleh dihukum karena praduga, dan pengadilan harus dilakukan bermartabat oleh lembaga pengadilan, bukan oleh masyarakat apalagi dengan cara yang barbar.
Selama dua dekade terakhir kita hidup dalam paradoks, kita alami setiap pagi ketika membaca koran. Dunia terlihat begitu penuh akan masalah: laporan mengenai pengeboman, teror dan konflik sipil. Sepertinya kita hidup di jaman kekerasan. Tapi jangan percaya yang anda lihat di TV.
Perang dan kekerasan terorganisir ternyata telah menurun secara dramatis dalam jangka dua dekade terakhir. Menurut apa yang pernah saya baca, secara umum peperangan di dunia telah menurun sebanyak lebih dari 60 % sejak medio 1980-an, bahkan tahun 2004 merupakan titik terendahnya sejak tahun 1950. Ada yang bilang bahwa kita sekarang hidup di jaman yang paling damai sepanjang manusia hidup di bumi (ingat jaman main pedang?).
Salah satu alasan mengapa terjadi ketidakcocokan antara realita dan pemahaman kita adalah revolusi teknologi informasi. Dunia yang serba instan dan penuh semangat. Perputaran berita aktual dua puluh empat jam menghasilkan berita hiperbola konstan. Setiap bom yang meledak merupakan breaking news. Dulu, kita tidak disuguhkan cuplikan harian dari dua juta orang yang tebunuh di Kamboja tahun 1970-an, atau jutaan orang yang binasa menjadi abu pada perang Irak-Iran pada tahun 1980-an. Jutaan orang mati di Kongo pada awal 1990-an. Eh? Apa saya lakukan. Barusan saya membandingkan kebejatan dengan angka.
Satu hal yang pasti, apa yang kita saksikan sekarang (serangan ‘acak’ terorisme terhadap orang awam) membuat orang akan berkata, “bukan tidak mungkin besok saya jadi korban bom”. Segala kemudahan masyarakat modern ternyata menambah kegelisahan kita.
Angka-angka memang bukan ukuran utuh akan sebuah kejahatan. Sepertinya dunia ini begitu berbahaya. Tapi ternyata tidak. Saya tidak ingin mengatakan bahwa perang sudah usang. Sifat manusia tetap apa adanya. Merupakan bagian kita untuk memahami gambaran hidup seutuhnya. Dan saat ini kita sedang berada pada periode jaman yang damai. Amin?
“Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, maka campakkanlah aku dari sana. Tapi jika aku menyembah-Mu kaena Engkau semata, maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.”
(Rabi’ah Adawijah)
Notes
-
nandojamur posted this