Isyarat Rancu

Weekend kemarin ramai sekali di Bandung. Bukan karena semangat patriotik, tapi karena weekend panjang. Yang jadi sasaran orang terutama Factory Outlet di siang hari dan kafe Dago di malam hari. Tapi semua tempat penuh, termasuk Yoghurt Cisangkuy. Rombongan kami yang sepuluh orang akhirnya dapat tempat duduk sama-sama, walaupun sebagian keliling meja, sebagian cuman kursi seperti eselon dua anggota delegasi perundingan perdamaian. Semua haus, cepat-cepat memanggil waiter untuk memberikan pesanan. “Minta menu ya Pak.” Jawabnya tidak kedengaran karena bising sekali dengan suara orang berhari libur kabur dari Jakarta, dari tempat ribut lari ke tempat ribut. Nggak denger Bapak itu bilang apa, tapi dia mengangguk, senyum dan mengundurkan diri.
Menunggu lama, tidak muncul juga si Bapak itu. Sementara itu, kami menunggu kue bandros yang tadi dipesan di pinggir jalan. Udah lama, nggak datang-datang. Katia yang memesan bandros bilang, orangnya akan mengantar ke meja kami. “Mana dia tau meja kita yang mana?” Katia dengan gugup menjawab cepat: “Dia akan cari kok.” Lah, saya berpikir sendiri, mana bisa orang cari satu Katia di tengah puluhan orang. Banyak yang tampangnya sama, lagian pesannya cuman satu papan bandros.
Mungkin karena kelihatan diragukan, Katia pergi diam-diam dan kembali membawa bandros satu papan. “Kok cepat?” Rupanya langsung dibuat, tadinya sih pesanan udah dilupakan. Keliatan Ibu bandros tidak pernah ada niat buat cari-cari Katia untuk menyerahkan bandros satu papan. Menu tidak datang-datang, jadi Chicha meninggalkan rombongan untuk memeriksa ke dalam. Laporannya, restoran itu tidak pakai menu, orang datang saja seperti di McDonald dan nunjuk, mau yoghurt stroberi atau lychee atau apa. Loh, kenapa Bapak tadi nggak bilang? Kenapa Ibu bandros nggak ngomong? “Maaf Bapak dan Ibu, disini tidak pakai menu, silakan masuk ke dalam milih dari papan tulis.” “Maaf Bu, saya tidak bisa mengantar, banyak sekali orang dan saya tidak bisa meninggalkan bakaran bandros, nanti gosong. Bagaimana kalau Ibu tunggu saja sebentar?” Kedua kalimat itu akan memberikan keterangan jelas, isyarat jernih. Tapi orang memilih menyampaikan isyarat rancu. Kenapa?
Bukan di Bandung saja orang senang memberikan isyarat rancu. Di Jakarta bertahun-tahun silam, ketika saya baru mulai bekerja di gedung tinggi, kalau makan siang orang harus pesan sama office boy. Kalau di Bandung, kita jalan keluar sebentar dan makan mie kocok atau nasi pecel. Di Menara Mulia, pada hari pertama kerja saya tidak tahu apa yang dijual di bawah. Jadi saya tanya Pak Sanur, “Ada nggak yang jualan gado-gado di bawah? “ Jawabnya hanya senyum lebar dan mengangguk, lalu saya kasih uang.
Tidak lama kemudian dia kembali dengan piring ditutup koran. Tutupnya dibuka, eh … isinya mie baso. Enak juga, tapi…. “tadi saya pesan gado-gado ya?” Hehehe.. Sanur cuman ketawa malu-malu.. jadi saya lanjutkan, “Nggak apa-apa sih. Lupa ya?” “Oh tidak Pak..” Saya berusaha keep it simple. “Tapi uangnya cukup? Kembaliannya buat Sanur deh” Sanur tersenyum lebar sambil mengangguk-ngangguk. “Cukup Pak. Terima kasih.”
Bukan peristiwa besar, tapi bukan tanpa alasan, saya dikenal sebagai orang yang wtk (want to know, aja…). Setelah mikir-mikir sendiri, saya panggil lagi Sanur itu. “Saya yakin tadi saya pesan gado-gado, tapi kok Sanur bawa mie baso. Kenapa? Padahal katanya nggak lupa.”
Kali ini dia berdiri agak ketakutan, seperti ingin menjawab tapi takut salah. Saya menusuk lebih dalam. “Kenapa ya? Ada nggak sih, gado-gado di bawah?” Sanur terdiam seribu bahasa.
Akhirnya, pada usia muda saya, saya mulai mengerti tentang kebudayaan. Saya coba ucapkan, “Oh, sebetulnya nggak ada ya, gado-gado”
Sanur terlihat lega sekali. “Tidak ada Pak. Tidak jualan.” “Oh, hari ini tidak jualan? Hari apa dong? ” Sanur diam lagi. Wah, hang terus nih. “Tidak pernah ada ya, yang jual gado-gado?” Muka Sanur bersinar. Mengangguk dan mengucapkan dengan lantang: :”Betul Pak, di sini tidak pernah ada yang jual gado-gado.”
Fiuu. Saya yang salah. Sanur tidak senang menjawab “tidak”, sebab takut mengecewakan. Jadi salah kalau menstruktur pertanyaan yang harus dijawab dengan isyarat negatif. Bagi Sanur, lebih baik saya senang, di-iyakan waktu memesan gado-gado, daripada harus menjawab “Tidak ada yang jual gado-gado!!” Soal nanti bagaimana, itu soal belakangan. Buatlah si Bapak senang sekarang, jangan mengundang kekecewaan dia. Siapa tahu ada perkembangan lain sebelum si Bapak menerima bad news.
Katanya orang senang baca tulisan yang tidak membuat mengerutkan dahi. Jadi kita tidak analisa atau buka Wikipedia tentang komunikasi. Tapi pikir-pikir, sering juga kita menerima isyarat rancu, jawaban yang tidak akurat, karena orang tidak ingin membuat kita bete. Dan kita terima sebagai bagian dari pergaulan. Nggak akan jalan disini, kampanye anti-narkoba Amerika Serikat dulu yang menyuruh orang “Just Say No.” People want to say Yes, apakah benar atau tidak. Jawaban yang benar, itu harus kita cari sendiri, menggunakan pengalaman, kearifan, kepekaan, kecerdasan.
After all, the answer, my friend, is blowing in the wind.
(WW)