
Melihat sejarah Tuhan di bumi ini ternyata tak seindah garis-garis itu. Watak agama-agama belum berhasil menyelamatkan sejarah dunia dari tingkah laku pemeluknya yang terus mencecerkan kebencian dan darah. Seksi. Seksi, ndasmu. Sesungguhnya, apa pun kategori seorang tokoh sejarah, termasuk Yesus, pada akhirnya warisannya akan bermuara pada panggung kemanusiaan. Dasar manusia, mudah sekali punah hanya karena seonggok kulit pisang.
Natal dan kekristenan dapat menyapa sesama dalam ajaran cinta kasih, atau yang kadang kita sebut tapi sering lupa maknanya: “rahmat”. Cinta kasih (harus) menjadi pondasi yang melandaskan harmonisasi sosial antar umat beragama. Ah, indahnya dunia apabila demikian adanya, bukan?
Natal, bagi umat Kristiani bukanlah sebuah perdebatan doktrin-doktrin teologi, tetapi merupakan sebagai sebuah pengalaman berbudaya, pengalaman beragama, perngalaman berke-Tuhan-an. Natal, lebih dari sekadar diskusi teologis dan filosofis, tapi memuliakan kehidupan: mengalami, menghayati dan –tentu saja- mempercayai “sesuatu”.
Maka, disinilah letak refleksi Natal sesungguhnya. Hidup itu anugerah Tuhan yang mesti dijaga kemuliaannya. Namun, tak ada kemuliaan tanpa didasari sikap untuk saling mengasihi dan memuliakan sesama.
Kasih ibu sepanjang masa, entah kasih Tuhan sepanjang apa. Om Jes, maafkan segala ke-sotoy-an saya selama ini. Menyambut-Mu dan merayakannya, kita damai dulu.
Selamat Natal! Senyum untuk anda semua.

If one night a big fat man jumps in at your window grabs you and puts you in a sack, don’t worry, I told Santa I wanted you for Christmas.