High Fidelity

Sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Nick Hornby, High Fidelity. Disutradarai oleh Stephen Frears.

Suka atau tidak budaya pop melekat pada hidup kita. Tak hanya dalam hal fashion saja, melainkan apapun. Ya, apapun. Termasuk perilaku dan gaya hidup. Sebegitu melekatnya hingga ia mempengaruhi bahasa, pola pikir sampai pergaulan kita. Isu musik/buku/film seringkali membuka obrolan akrab dan perdebatan hangat. Ya memang begitu, dunia kita telah dirangkai dari hal-hal sekelebat yang kemudian dianggap remeh ini.

Menonton High Fidelity adalah seperti mendengarkan sebuah lagu pop kesukaan kamu, di mana kamu tumbuh bersamanya. Terobsesi pada artisnya, puja musiknya. Intinya High Fidelity memperlihatkan fanatisme terhadap budaya pop, berikut hal-hal manis dan juga pahitnya. Kita belum tahu betul musik apa yang benar-benar kita inginkan.

Rob Fleming, seorang pemilik toko musik, harus menghadapi kenyataan yang tak terbantahkan, bahwa dia dia semakin bertambah dewasa, namun belum sanggup meninggalkan impian-impian mudanya. Di saat teman-teman dan mantan kekasihnya sudah jauh berkembang menjadi dewasa, dirinya masih saja keras kepala berada di tempat yang sama. Terikat akan kenangan-kenangan manis, atau terkadang dirasa penting untuk menangis karena musik pun berkata demikian. Nilai-nilai yang ia pegang teguh selama ini tak mendapat tempat di mana pun di dunia nyata padahal nilai inilah yang ingin ia coba bawa dalam suatu hubungan dewasa. Satu hal yang pasti musik, film, buku telah menyesaki kepalanya dengan ide-ide romantis tentang kehidupan yang bebas, namun ringkih.

“…I agreed that what really matters is what you like, not what you are like… Books, records, films—these things matter. Call me shallow but it’s the fuckin’ truth.”

Di film ini Rob seperti narator yang sedang curhat tentang kisahnya sendiri. Seolah-olah ia sedang curhat secara langsung dengan kita. Hingga terkadang kita spontan berfikir dan serasa ingin berkomentar saat itu juga.

Rob, diperankan oleh John Cusack, sendiri adalah karakter yang kocak, kalau tidak mau dibilang tolol. Di luar musik, bisa jadi ia tidak memiliki kepintaran apa-apa. Sikap keras kepala tersebut menjadikannya seorang musical snob. Seperti saat Rob dan temannya (Jack Black) mengusir pelanggan dari toko hanya karena orang tersebut mencari album Stevie Wonder (”Do we look like a store that sells ‘I Just Called to Say I Love You’? Go to the mall!“). Atau bagaimana persepsi Rob seketika berubah ketika menonton akustikan cover lagu Peter Frampton yang dianggap cupu. (“I used to hate this song…Now I kinda like it.”).

Kemudian kita akan menyaksikan konflik dalam film ini. Konflik ‘batin’ Rob: akankah ia berubah. Sebegituburuknyakah sebuah ‘komitmen’ dan obsesinya. Padahal baginya tanpa musik hidup tak kan bisa dijalani. Musik membuat dirinya spesial. Rob takut akan perasaan kehilangan. Seperti kata Rob, “Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?”

Pada akhir film, Rob akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang selama ini ternyata berada tepat di depan matanya sendiri. Sebuah kenyataan penting tentang arti kehidupan, kisah cinta, kematian, semuanya terbungkus bagai soundtrack pop indah yang merayakan kehidupan kita.

Film yang menarik. Sebuah gambaran baik dari hati manusia, juga yang terburuk.