tera yang ketujuh.

adegan Antonius Block bermain catur dengan Death

Senin kemarin, aku mengikuti acara Pemutaran & Diskusi film “The Seventh Seal” di CCF yang diadakan oleh komunitas LayarKita. Sebelumnya belum pernah ke CCF dan nggak kenal dengan komunitas LayarKita. Bermodal rasa penasaran dengan nama Ingmar Bergman di balik film ini, aku berangkat. Hujan gak masalah.

Sampai di CCF, mbak di ruang depan CCF menyuruh ke belakang saja, ke ruangan audiotorium. Tempat ini biasanya digunakan untuk acara pemutaran film katanya. Kemudian kenalan dengan Wulan, mahasiswi HI-Unpad yang seangkatan dengan ku. Wulan sudah mengikuti acara pemutaran film LayarKita sejak beberapa bulan yang lalu. Obrolanku dengan Wulan teralihkan ketika tiba-tiba muncul sosok gadis manis yang wajahnya familiar. Dia adik kelas ku di kampus. Kami nggak saling kenal, cuma saling tatap tiga detik saja. Ini pertanda baik, pikirku. Nggak salah datang ke CCF.

Wulan bilang, pemutaran film kali ini agak istimewa karena dihadiri Ronny P. Tjandra, pemilik Jive (Entertainment) Collection yang biasa mengimpor film-film asing. Wulan kemudian mengenalkan ku ke bang Tobing, orangnya LayarKita. Bang Tobing bilang, Pak Ronny akan menjadi narasumber dalam acara kali ini, dia ahlinya film The Seventh Seal, pengagum berat Ingmar Bergman.

Film dimulai, film selesai. Pakdhe Ronny berdiri, mulai bercerita tentang latar belakang pembuatan film. Lebih jauh dari itu ia mulai menerangkan bagaimana karakteristik perfilman di Eropa dan perfilman di Amerika sebagai perbandingannya.

Menurut pakdhe Ronny, orang amerika itu mudah terpesona oleh kecantikan. Apapun dibuat ter-inilah, ter-itulah, segala sesuatunya harus dibikin heboh dan glamor, dazzled by bigness. Ada Grand Canyon, Grand Central, Disney World, American armed Forces, General Electric, SUVs dan Double Quarter Pounder (with Cheese). Lebay. Ke-lebay-an orang amrik ini juga kelihatan di industri filmnya. Semua dibikin peringkat, mana yang blockbuster mana yang nggak. Mana film yang Box Office, mana film yang pemasukannya terbesar, mana film yang CGI paling keren, dan seterusnya. Kompetitif sekali. Ini yang membuat industri film Amerika begitu komersil.

Industri film di Eropa berbeda. Selanjutnya, menurut pakdhe Ronny, orang Eropa khususnya orang-orang Skandinavia itu intelek (telek?). Kelihatan sekali inteleknya. Ini gara-gara musim di sana, musim panas di sana itu pendek sekali. Sehingga kegabutan di musim dingin dipenuhi dengan kesibukan menulis. Semuanya ditulis, dari novel, puisi, cerpen, bahkan skrip teater. Jadi di sana udah biasa kalau ada seorang yang anak yang bertanya ke bapaknya, “lagi nulis apa?”, “sudah selesai menulis apa saja?”. Nah, dari skrip-skrip pendek itu mereka sering melakukan pertunjukkan drama kecil-kecilan sembari mengisi waktu bersama keluarga di rumah. Budaya ini sudah ada sejak dahulu kala hingga sekarang. Ini yang menyebabkan film-film Eropa lebih ‘berseni’ daripada film-film Amerika, budaya untuk menyalurkan ekspresi dan ide melalui sastra dan seni pertunjukkan sudah mendarah daging pada orang-orang Eropa. Ini juga sebab mengapa industri film Indonesia nggak semaju di Eropa. Karena kita nggak melewati fase buku-teater-film ini.

Pakdhe Ronny juga bercerita tentang kepribadian dan pengalaman-pengalaman hidup Ingmar Bergman yang mempengaruhi karya-karyanya. Diskusi dilanjutkan dengan menjawab beberapa pertanyaan lainya dari penonton. Pesan dari film ini sendiri hampir tidak (sempat) diperbincangkan. Pakdhe Ronny sibuk menanggapi bapak tua yang mengaku ahlinya antropologi visual dan sudah 31 tahun setengah di California mendalami perfilman. Namanya, kalau tidak salah, Moko sesuatu. Seorang pria lalu bertanya ke pakdhe Ronny apa arti dibalik adegan tujuh orang yang mendaki bukit mengikuti Death, kok adegan itu bisa sebegituterkenalnya. Diam-diam saya juga ingin bertanya hal yang sama. Pakdhe Ronny tidak menjawab dengan pasti, dia hanya bilang kalau adegan tersebut merupakan adegan ikonik yang akan dikenang orang-orang ketika menonton film ini dan menjadi inspirasi pembuatan film-film lainnya.

Banyak pihak yang melabeli film ini sebagai salah satu film yang paling berpengaruh di dunia. Film ini juga dianggap sebagai pelopor film religi, karena mengambil petikan ayat dalam kitab wahyu dan menggambarkan The Death, sang pencabut nyawa, yang berhadapan langsung dengan manusia. The Seventh Seal sendiri menurut ku merupakan film yang menarik. Pesan film ini jelas: mempertanyakan misteri tentang Tuhan, kematian, kehidupan, iman, ketakutan, cinta. Tulisan Goenawan Mohamad dalam caping pada tahun 1992 yang berjudul Tafsir dapat menggambarkan arti dari film The Seventh Seal dengan baik.

Usai acara, di luar masih hujan. Adik kelasku yang manis tadi sudah tidak kelihatan. Motor dan helm basah kuyup. Ternyata sudah pukul setengah sembilan, perutku lapar. Setengah jam menunggu, hujan belum juga berhenti. Aku putuskan untuk pergi dari CCF. Makan babi di wastukancana.

 

“BERIMAN adalah menderita,” kata kesatria bertubuh kurus itu sambil memejamkan matanya. “Kita seperti mencintai seseorang yang berada dalam gelap, diam, dan tidak pernah menjawab.”