sandwich.

Kali ini kita akan berbicara tentang sandwich. Ya sandwich, makanan ringan yang terbuat dari potongan roti yang diisi dengan lapisan daging asap, keju, sayur dan kadang telur. Mungkin anda tidak tahu, bahwa sandwich merupakan awal dari sejarah suram peradaban modern kita. Bahwa sandwich telah menyebabkan puluhan juta orang terbunuh di abad ke-20.

Dulu ketika belajar sejarah di sekolah, kita dijelaskan tentang Perang Dunia I dipicu oleh pembunuhan putera mahkota kerajaan Austria, Frans Ferdinand. Ia dibunuh oleh seorang pria bernama Gabriel Princip (Gavrilo Princip), pelajar dari Bosnia yang tergabung dalam kelompok pemberontak Black Hand. Jutaan jiwa menjadi korban dalam Perang Dunia I ini.

Pembunuhan yang dilakukan Gavrilo Princip sendiri merupakan sebuah kebetulan. Pada tahun 1914, Franz Ferdinand dan istri beserta rombongan sedang konvoi di Sarajevo dengan mobil kap terbuka. Black Hand berencana membunuh Ferdinand dengan cara mengebom mobil yang ditumpanginya. Mereka salah perhitungan, granat yang dilempar telat meledak dan malah menghancurkan iringan mobil di belakangnya. Bukannya kapok atau trauma, Franz malah menjenguk korban insiden tersebut ke rumah sakit. Sembari menunggu Franz Ferdinand yang sedang berada di rumah sakit, si sopir memilih nongkrong di kafe di sekitar rumah sakit, dan ternyata kebetulan di kafe ini Gavrilo Princip sedang menikmati sepotong sandwich sambil memikirkan gagalnya upaya pembunuhan yang baru saja berlalu. Gavrilo Princip mengambil pistolnya, yang terjadi kemudian adalah sejarah.

Kemudian….

Perang Dunia I. Perekonomian dunia barat mengalami malaise, negara-negara di eropa bangkrut karena perang. Adolf Hitler muncul, Perang Dunia II meletus. Holocaust.  Nagasaki dan Hiroshima dibom atom, perang berakhir. Tahun 1945 muncul AS dan Rusia sebagai negara greatpower pemenang perang, Perang Dingin dimulai. Negara Israel berdiri, salah satu alasan utamanya adalah holocaust tadi. Israel memulai Six-Day War, PLO dan Hamas dibentuk untuk melawan Israel. Perang Dingin memicu perang di Vietnam dan Afghanistan, muncul Taliban dan Al-Qaeda di sini. Di AS muncul gerakan Hippie yang menolak perang-perang ini.  

Sampai sekarang kita masih merasakan konflik-konflik warisan abad ke-20 ini. Yak, benar. Sebagian besar kisah kematian dan kengerian abad ke-20 ini mungkin tidak akan terjadi kalau Gavrilo Princip tidak makan sandwich pada hari itu. Jadi, kalau anda sedang memakan sandwich, ingatlah jutaan korban yang tewas gara-gara sepotong roti ini….

mengalami papua.

*bulan Juni tahun lalu*

“Kalau kasus Bank Century yang  mengurusi 6.7 trilyun rupiah mampu dibuatkan pansusnya, kenapa Papua yang menghasilkan sekurangnya 1 milyar dolar AS per bulannya tidak mampu dibuatkan pansus?

Dari 21 perwakilan Papua di DPR-RI, hanya beberapa yang benar-benar berjuang, sebagian mencari aman, sebagian lainnya sudah mulai kehabisan stamina. Isu politik yang berkembang dipegang elit politik dan elit partai di Jakarta, kami susah menghadapinya. Saya hadir disini untuk meminta dorongan dan dukungan energi untuk terus berjuang.

Di ruangan ini, pada diskusi publik ini, banyak orang yang mengkritik dan marah kepada SBY tidak bergerak sesuai kampanyenya. 80 % orang Papua memilihnya (SBY). Belum ada satu pun kebijakan SBY yang memperjuangkan Papua. Saya dari partai Demokrat, tapi demikianlah partai politik sebagai kendaraan politik kalau kita mau jadi DPR.”

(Diaz Gwijangge, anggota DPR-RI asal Papua)

 

“Isu separatisme menjadi masalah terpenting dan terutama. Dengan menyelesaikan masalah separatisme masalah lain dapat mulai ditelusuri dan dibenahi. Contohnya masalah kesehatan. Ada katanya dibangun Puskesmas di Papua, tapi ketika saya mampir dokternya tidak ada. Seorang dokter mungkin akan menangis  berhari-hari ketika ditugaskan di Papua. Semua orang pernah mencret, ada obatnya, Diatab namanya. Harganya Cuma 500 perak. Di Papua, orang bisa mati karena mencret. Tidak ada Diatab disana. Kondisi Papua yang tidak kondusif menjadi penyebabnya.

Demografi juga menjadi masalah penting. Saat ini Papua berpenduduk 2.3 juta jiwa. 1.3 juta merupakan penduduk asli Papua, dan 1 juta lainnya merupakan pendatang. Ini penting bagi wajah dan perjuangan Papua di masa depan, siapa yang bersedeia memperjuangkan rakyat Papua. Sedangkan di sisi lain pelanggaran HAM terus terjadi. Lalu juga ada deprivasi juga dapat memunculkan konflik laten.

SBY terlihat prihatin terhadap Palestina, ini terlihat dari perhatian dan pernyataannya. Tapi sepertinya belum ada pernyataannya yang memperjuangkan Papua. Mungkin itu bagian dari kebijakan politik luar negerinya: “a thousand friends, zero enemy”. Tapi dalam konteks domestik kita lihat istilahnya berbeda, “a thousand enemies, zero friend”. Dalam konteks internasional kita juga melihat adanya pergesaran fokus isu. Isu pelanggaran HAM mulai bergeser ke isu-isu seperti krisis ekonomi, climmate change, teroris dan liberalisasi perdagangan.”

(Amiruddin Al-Rahabi, LIPI, penulis buku “Heboh Papua”)


“Sungai Papua mengalirkan emas, ikannya berlimpah, kaya akan sumber daya mineral. Papua bagaikan surga kecil yang jatuh ke bumi. Tapi setengah rakyat Papua hidup miskin dan terbelakang. Kalau barat (Jawa, Sumatra dll) mulai kehabisan sumber daya alam akibat penduduknya yang terus memadat kemana mereka akan mencari sumber daya alam? Mereka akan ke Papua.

Selain DPR, Papua punya MRP (Majelis Rakyat Papua) yang beranggotakan 45 orang sebagai representasi 250 suku di Papua. Tadinya MRP bertujuan untuk merumuskan pasal-pasal perundangan otonomi Papua. Diskriminatif? Ya. Tapi kami butuh makan. Dan orang Papua belum mampu berbuat banyak. Saya dan teman-teman di MRP terlihat mulai kekurangan stamina. Dan ketika segala sesuatunya terlihat pesimistik, maka jawaban kami ketika ditanya apa mau rakyat Papua: ya sudah, kita mau merdeka.”

(Perwakilan Majelis Rakyat Papua)

 

“Konflik yang terjadi di indonesia, khususnya di Aceh dan Papua merupakan otokritik bagi pemerintah dan akademisi di Indonesia. Bagaimana peran akademisi belum mendapatkan bagian yang penting bagi resolusi konflik ini. Para akademisi dapat menelusuri formasi sosial yang tepat bagi daerah-daerah yang sedang konflik. Peta permasalahan dari Papua berbeda dengan peta permasalahan yang dari Jakarta. Akademisi juga dapat menjadi penghubung antar pihak yang berseteru.

Kemudian masalah momentum, apa yang menjadi pemicu bagi resolusi konflik Papua. Untuk kasus Aceh, ternyata Tuhan ikut berperan. Tsunami ternyata telah menyatukan kita. Bagaimana dengan Papua? Tidak ada tsunami. Pemicunya ada pada kekuasaan tertinggi eksekutif, presiden. Wakil presiden juga bisa. Kita lihat Jusuf Kalla berjasa atas Aceh. Budiono?”

(Otto Syamsuddin, sosiolog, aktivis)

 

“Kalau konflik di Aceh, para pemuda bebas berjuang, didukung para ibu yang memasak untuk mereka, maka berbeda di Papua. Kalau pemuda mau berjuang yang berjuang, mau demo ya silakan demo. Para ibu takut mendukung anaknya. Takut kalau rumahnya akan dikenali, ditandai dan diincar oleh militer.

Otonomi Khusus (otsus), bagi orang Papua, adalah bagaikan awan di kaki gunung. Dialog merupakan mekanisme yang sangat baik. Dialog merupakan suatu proses, prosesn menyembuhkan luka-luka Papua. Pelan-pelan luka-luka tersebut dapat dibuka, dihentikan pendarahannya, dan diobati. Pelanggaran HAM di Papua terjadi setiap saat. Menurut data dari Amnesty International beberapa tahun yang lalu, korban pelanggaran HAM di Papua sudah mencapai 100.000 jiwa. Dan tentunya korban terus bertambah. Tidak salah sepenuhnya kalau ada yang bilang ini genosida secara perlahan. Resolusi konflik Papua harus berlandaskan humanisme.”

(Pastor Yohanes Jonga, penerima penghargaan HAM Yap Thiam Hien)

 

terimakasih kepada gilbhas atas fotonya.

Merupakan tanggung jawab kita sebagai warga negara Indonesia untuk ‘mengalami Papua’. Berbicara NKRI tanpa mengalami Papua berarti kita hanya menjadi setengah warga Indonesia. Hampir 50 tahun sudah deklarasi Papua ingin merdeka. Suatu kepentingan yang masih sama hingga saat ini, jelas ada yang salah di sini.

Tulisan di atas merupakan notasi dari diskusi publik “Dialog Jakarta-Papua Sebuah Keniscayaan?” yang diadakan hari ini. Saya jadi malu (harusnya kita malu), karena sebagian kenikmatan saya di sini merupakan hasil dari tanah Papua. Coba pejamkan mata, bayangkan negara Indonesia di masa depan. Kota besar, dengan gedung-gedung tinggi, mobil-mobil canggih, semuanya serba modern. Adakah orang Papua di situ?

Masalah di Papua sering kita (dan pemerintah) jadikan kehebohan semata. Terjadi penembakan di Papua, surat yang dikirim kongres AS, laporan LSM internasional, dan berita pelanggaran HAM di Papua sering hanya menjadi keributan dan teriakan sementara yang lalu hilang begitu saja.

Ah, jangan sampai lah. Jangan sampai lagu nasional kita harus diganti menjadi “dari Sabang sampai Maluku……berjajar pulau-pulau (tanpa merauke)”. Untung Sabang sudah disalam, walaupun belum dirangkul mesra.

tera yang ketujuh.

adegan Antonius Block bermain catur dengan Death

Senin kemarin, aku mengikuti acara Pemutaran & Diskusi film “The Seventh Seal” di CCF yang diadakan oleh komunitas LayarKita. Sebelumnya belum pernah ke CCF dan nggak kenal dengan komunitas LayarKita. Bermodal rasa penasaran dengan nama Ingmar Bergman di balik film ini, aku berangkat. Hujan gak masalah.

Sampai di CCF, mbak di ruang depan CCF menyuruh ke belakang saja, ke ruangan audiotorium. Tempat ini biasanya digunakan untuk acara pemutaran film katanya. Kemudian kenalan dengan Wulan, mahasiswi HI-Unpad yang seangkatan dengan ku. Wulan ternyata sudah mengikuti acara pemutaran film LayarKita sejak beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba muncul sosok gadis manis yang wajahnya familiar. Dia adik kelas ku di kampus yang konon pernah jadi gadis sampul itu. Kami nggak saling kenal jadi cuma saling tatap tiga detik saja. Ini pertanda baik, pikirku. Nggak salah datang ke CCF.

Wulan bilang, pemutaran film kali ini agak istimewa karena dihadiri Ronny P. Tjandra, pemilik Jive (Entertainment) Collection yang biasa mengimpor film-film asing. Wulan kemudian mengenalkan ku ke bang Tobing, orangnya LayarKita. Bang tobing bilang, Pak Ronny akan menjadi narasumber dalam acara kali ini, dia ahlinya film The Seventh Seal dan pengagum berat Ingmar Bergman.

Film dimulai, film selesai. Pakdhe Ronny berdiri, mulai bercerita tentang latar belakang pembuatan film. Lebih jauh dari itu ia mulai menerangkan bagaimana karakteristik perfilman di Eropa dan perfilman di Amerika sebagai perbandingannya.

Menurut pakdhe Ronny, orang amerika itu mudah terpesona oleh kecantikan. Apapun dibuat ter-inilah, ter-itulah, segala sesuatunya harus dibikin heboh dan glamor, dazzled by bigness. Ada Grand Canyon, Grand Central, Disney World, American armed Forces, General Electric, SUVs dan Double Quarter Pounder (with Cheese). Lebay. Ke-lebay-an orang amrik ini juga kelihatan di industri filmnya. Semua dibikin peringkat, mana yang blockbuster mana yang nggak. Mana film yang Box Office, mana film yang pemasukannya terbesar, mana film yang CGI paling keren, dan seterusnya. Kompetitif sekali. Ini yang membuat industri film Amerika begitu komersil.

Industri film di Eropa berbeda. Selanjutnya, menurut pakdhe Ronny, orang Eropa khususnya orang-orang Skandinavia itu intelek (telek?). Kelihatan sekali inteleknya. Ini gara-gara musim di sana, musim panas di sana itu pendek sekali. Sehingga kegabutan di musim dingin dipenuhi dengan kesibukan menulis. Semuanya ditulis, dari novel, puisi, cerpen, bahkan skrip teater. Jadi di sana udah biasa kalau ada seorang yang anak yang bertanya ke bapaknya, “lagi nulis apa?”, “sudah selesai menulis apa saja?”. Nah, dari skrip-skrip pendek itu mereka sering melakukan pertunjukkan drama kecil-kecilan sembari mengisi waktu bersama keluarga di rumah. Budaya ini sudah ada sejak dahulu kala hingga sekarang. Ini yang menyebabkan film-film Eropa lebih ‘berseni’ daripada film-film Amerika, budaya untuk menyalurkan ekspresi dan ide melalui sastra dan seni pertunjukkan sudah mendarah daging pada orang-orang Eropa. Ini juga sebab mengapa industri film Indonesia nggak semaju di Eropa. Karena kita nggak melewati fase buku-teater-film ini.

Pakdhe Ronny juga bercerita tentang kepribadian dan pengalaman-pengalaman hidup Ingmar Bergman yang mempengaruhi karya-karyanya. Diskusi dilanjutkan dengan menjawab beberapa pertanyaan lainya dari penonton. Pesan dari film ini sendiri hampir tidak (sempat) diperbincangkan. Pakdhe Ronny sibuk menanggapi bapak tua yang mengaku ahlinya antropologi visual dan sudah 31 tahun setengah di California mendalami perfilman. Namanya, kalau tidak salah, Moko sesuatu. Seorang pria lalu bertanya ke pakdhe Ronny apa arti dibalik adegan tujuh orang yang mendaki bukit mengikuti Death, kok adegan itu bisa sebegituterkenalnya. Diam-diam saya juga ingin bertanya hal yang sama. Pakdhe Ronny tidak menjawab dengan pasti, dia hanya bilang kalau adegan tersebut merupakan adegan ikonik yang akan dikenang orang-orang ketika menonton film ini dan menjadi inspirasi pembuatan film-film lainnya.

Banyak pihak yang melabeli film ini sebagai salah satu film yang paling berpengaruh di dunia. Film ini juga dianggap sebagai pelopor film religi, karena mengambil petikan ayat dalam kitab wahyu dan menggambarkan The Death, sang pencabut nyawa, yang berhadapan langsung dengan manusia. The Seventh Seal sendiri menurut ku merupakan film yang bagus. Pesan film ini jelas: mempertanyakan misteri tentang Tuhan, kematian, kehidupan, iman, ketakutan, cinta. Tulisan Goenawan Mohamad dalam caping pada tahun 1992 yang berjudul Tafsir dapat menggambarkan arti dari film The Seventh Seal dengan baik.

Usai acara, di luar masih hujan. Adik kelasku yang manis tadi sudah tidak kelihatan. Motor dan helm basah kuyup. Ternyata sudah pukul setengah sembilan, perutku lapar. Setengah jam menunggu, hujan belum juga berhenti. Aku putuskan untuk pergi dari CCF. Makan babi di wastukancana.

 

“BERIMAN adalah menderita,” kata kesatria bertubuh kurus itu sambil memejamkan matanya. “Kita seperti mencintai seseorang yang berada dalam gelap, diam, dan tidak pernah menjawab.”

sungguh mengagumkan. ini yang aku mau.

macet, jalan sulanjana, agustus 2011, bandung.

“Terjebak kemacetan kota, lagi-lagi guru di dalam bergumam: “kehidupan berputar dengan hukum keseimbangan (siang-malam, tenang-riuh dst). Siapa saja yang mengambil banyak kesenangan (terutama di kota besar) harus membayarnya dengan banyak kesedihan”. Ujung-ujungnya satu, jauh sebelum emosi terbakar dengan kemarahan dan kejengkelan, mata sudah memasang palang di awal dengan senyuman menawan. Ini yang kerap disebut oleh sejumlah guru meditasi sebagai right view (memandang dengan senyuman).

Bagi   siapa   saja   yang   sudah   berpelukan   mesra  dengan kehidupan dan menemukaan kedamaian, ia tidak saja bisa tersenyum dengan bibirnya, ia juga bisa tersenyum dengan matanya. Memandang kehidupan dengan pengertian mendalam.”

Gede Prama (Tersenyum Dengan Mata)

Hhmmm…oke aku mengerti. Tapi macet itu memang menyebalkan.

“Percakapan Dua Ranting”

Ladakh, North India.

“kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang kau inginkan nanti? sepi.  kalau nanti kau dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani munculkan diri, dan kau tinggal untuk menanti? cari. andai bumi sembunyi saat kau berlari? mimpi. lalu malam menyergapmu dalam pandang tiada tepi? hati. baik…aku tak lagi memberimu mungkin? kecuali. baik…aku hanya akan menyapamu tanpa kecuali? mungkin. dan jika tetap seperti itu, embun takkan jatuh dari kalbumu? sampai. akankah kau patahkan tubuhmu hingga musim tiada berganti? mari. lalu kau tumbuhkan bunga tanpa kelopak tanpa daun berhelai-helai? kemari. juga kau benamkan yang lain dalam jurang di matamu? aku. katakan bahwa kau menerimamu seperti aku memberimu?…kau. ya. kau?…aku.”

Besancon, oktober sebelas 1997.

Radhar Panca Dahana (Lalu Batu: Antologi Puisi)